- Bible of the day -

Search here

Rabu, 28 Juli 2010

Keuntungan anak IPS

Kalo ipa, Laboratoriumnya : Lab Fisika, Lab Kimia
Kalo ips, Laboratoriumnya : Dunia..karena anak sosial


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

kalo anak IPA = belajar jadi yg dipekerjakan
anak IPS = Belajar Jadi yang mempekerjakan

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

IPS lebih mudah bersosialisasi karena dapat pengajaran sosiologi, lebih bisa menarik hati para bos2


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


IPA memberikan porsi jam lebih banyak pada Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan fitur mapel lain disesuaikan
dengan bobot MIPA.
Lulusannya diarahkan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan spesifikasi sama (meski diperbolehkan merambah
bidang lain, misalnya Bahasa, Akuntansi, Manajemen, Sosiologi, Arkeologi, dst.) dan di Indonesia sengaja jurusan ini


diperbanyak sebab Indonesia kekurangan Scientist. Namun efek sampingnya ialah:

1. Apabila lulusan IPA mengambil mata kuliah di luar IPA kelak, bisa dipastikan akan kalah dengan kawan-kawan lain
yang berasal dari jurusan yang sesuai.

2. Apabila masuk IPA hanya demi gengsi atau hanya untuk menyenangkan keluarga, bisa dipastikan selama proses
pembelajaran yang terjadi ialah stress berat, ringan, atau sedang.

3. Apabila masuk IPA tidak sesuai dengan kecerdasan dominan (e.g. Logika-Matematika) maka kasihan benar si siswa.
Memang lulusan IPA bisa jadi Insinyur(dulu, sekarang tidak ada), Arsitek, Dokter, Perancang Bangunan, atau bahkan
sarjana perikanan, tapi itu buat mereka yang benar-benar ENJOY di kelas IPA, bukan untuk mereka yang terpaksa
belajar IPA karena tidak tahu tujuan hidup.

Bagaimana dengan IPS? Di kelas IPS, kamu bisa dapat Sosiologi, Antropologi, Akuntansi, Manajemen, Tata Negara, dst.
yang tentu tidak didapatkan oleh mereka yang belajar di kelas IPA. untuk mengikuti tes masuk STAN, kamu tidak perlu
terlalu keras mempersiapkan diri karena materi tes sudah didapatkan di bangku sekolah.
Lulusan IPS bisa saja menjadi pengacara (kabar baik, kita kekurangan pengacara...), hakim, jaksa, notaris,

marketing, manajer, akuntan, arkeolog, peneliti sosial, politikus (eh, maksud saya negarawan), bupati, gubernur,
apalah...tapi kamu bisa lihat, kan? porsi lulusan IPS bergaji gedhe itu. coba taruhlah misalnya kamu lulus IPS terus


melanjutkan ke Hukum, selesai 5 tahun. Tambah 2 tahun lagi kursus kepengacaraan atau kenotariatan. Lulus kaya raya,
nih pasti. Notaris ecek-ecek saja biaya konsultasinya 500 ribu per kasus.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. karena masyarakat indonesia masih banyak yang nganggap pelajaran macam kimia, fisika, sama matematika itu susah,
otomatis mereka berpikiran kalo anak IPA itu pinter2.

2. banyak orang yang berlomba-lomba untuk masuk IPA karena ingin dianggap pintar dan bisa bebas memilih fakultas
manapun saat kuliah. Kadang ada anak yang gak punya potensi dan bakat di IPA yang masuk IPA karena "keajaiban" atau
"keberuntungan", bahaya kalo dipaksakan Dude, wake up! ilmuwan didunia ini udah cukup banyak! apa gunanya jadi orang


"pinter" kalo pada akhirnya dinegeri sendiri tidak diperlakukan dengan semestinya dan pada akhirnya memilih untuk
tinggal diluar negeri karena merasa lebih dihargai disana. Setelah diakui diluar negeri....ya, kalian tau lah apa
yang akan terjadi selanjutnya.

3. Peninggalan Belanda, Belanda dulu membuat sebuah anggapan dimasyarakat bahwa anak yang menguasai IPA itu lebih
pintar daripada IPS dengan maksud agar orang indonesia yang menguasai IPS lebih sedikit. tujuannya agar masyarakat
indonesia tidak mengadakan perlawanan karena seorang "revolusioner" butuh yang namanya strategi,
perencanaan/planning, dan ilmu dibidang politik dan sosial. Ini yang tidak kita dapatkan di IPA.


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



JANGAN HILANG PD MU KARENA JADI ANAK IPS



Kalo mau dilihat, kenapa IPA cenderung dianggap lebih hebat, kita bisa ngelihat dari jaman penjajahan Belanda. Dulu,


Belanda kan ngebangun STOVIA (sekolah kedokteran) buat orang Indonesia. Kalo gak salah ada sekolah tekniknya juga,
tapi aku lupa. Nah dari situ, orang Indonesia udah di-brainwash bahwa untuk jadi pinter dan berhasil, masuklah ke
sekolah kedokteran atau teknik. Ga heran juga kan kalo dulu anak kecil ketika ditanya cita-citanya pasti ngejawab
pengen jadi dokter, insinyur, astronot, dsb. Tentunya, pekerjaan tadi adalah yang berhubungan dengan bidang mata
pelajaran IPA. Bokap aku aja pernah cerita kalo pas SMA itu masih ada penjurusan Kimia, Fisika, Bahasa, dan Ilmu
Sosial. Bahkan di beberapa sekolah ada guru-guru yang menggangap IPS hanya "anak buangan" yang seharusnya gak perlu
ada. Sekedar info juga, bukan rahasia umum kalo di SPMB (bahkan sampe sekarang di SNMPTN), anak IPA diperbolehkan
untuk ngambil program IPC buat ngambil jurusan anak IPS di kuliah.

Selain itu, ketika jaman orde baru dulu (bahkan sampe sekarang), masyarakat Indonesia yang (mungkin) masih feodal
dan paternalistik, masih melihat pencapaian fisik sebagai keberhasilan, kayak gedung yang dibikin sama insinyur,
dokter yang bisa nyembuhin penyakit, ahli kimia pangan yang bisa bikin makanan enak, dan lain sebagainya.

Jadi, sistem pemikiran orang Indonesia juga kebentuk bahwa IPA adalah yang terbaik. Tentunya dengan melihat sejarah
yang ada, sistem yang berlaku, juga dengan pola pikir yang ada di masyarakat Indonesia.

Sekarang, yang perlu kamu/kita lakukan, adalah tutup kuping mu terhadap orang-orang yang agak sedikit meremehkan
pilihanmu . Aku percaya, km bisa sukses di IPS, selama km tetap berusaha mencapai cita-cita dengan tetap berserah
sama Tuhan. Aku yakin kita bisa berhasil. Buktikkan bahwa kamu bisa mencapai cita-cita . Temen saya pernah
cerita,"when everybody were very doubt about my effort, i look back to them and said, 'watch me'". Oya, aku anak IPS


dan aku bangga jadi anak IPS.

6 komentar: